Senin, 24 Oktober 2011

Really, Nobody's Perfect

Saya memang tidak cantik
Saya memang tidak pintar
Saya memang tidak kuat
Saya memang tidak jenius
Saya memang tidak pintar bersosialisasi
Saya memang tidak pantas berada di atas
Saya memang tidak mengasikkan
Saya memang tidak rajin
Saya memang tidak peka
Saya memang tidak baik
Saya memang tidak jujur
Saya memang tidak manis
Saya memang tidak punya tujuan
Saya memang tidak langsing
Saya memang tidak feminim
Saya memang tidak putih
Saya memang tidak husnuzan
Saya memang tidak penurut
Saya memang tidak tahu diri
Saya memang tidak sempurna
......................
Saya tidak sempurna.
Saya hanya selalu berusaha untuk mendekati kesempurnaan
secara berlebihan.
yang akhirnya membuat diri saya lebih mengerti bahwa,
saya sangat jauh dari kata sempurna
bahkan dari alfabet "S" nya masih cukup jauh
Sempurna.
cita-cita yang jelas mustahil. 
tak dapat dipungkiri
mengejar kesempurnaan secara berlebihan akan membuat kita jatuh
tapi, apa jadinya kalau tidak berlebihan?
mengejar kesempurnaan. Tapi kita tahu kita tak dapat mencapainya.
Sia-sia kah? Kosong kah? 
.....................
Sesuatu yang berlebihan itu jelas tidak baik
cobalah untuk mengejar kesempurnaan itu tanpa pamrih
tanpa terpengaruh oleh kata-kata "tak ada yang sempurna"
tanpa pengharapan yang lebih.
mengejarnya setulus hati dengan harapan kita bisa lebih baik dari sebelumnya
Pasti. pasti akan ada hasilnya.

mencoba untuk sempurna = menggapai bulan
tidak bisa sempurna = jatuh
menjadi lebih baik dari sebelumnya = jatuh diantara bintang-bintang
percaya bahwa jalan yang panjang pasti memiliki akhir
percaya bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik untuk hamba-Nya
percaya bahwa kita dapat mengejar kesempurnaan
percaya bahwa kita tidak dapat mencapai sempurna
percaya. selalu percaya bahwa kita dapat berubah lebih, lebih baik lagi
teruslah berlari mengejar kesempurnaan. sampai dimana kamu benar-benar merasa sempurna ; Surga-Nya

 

Sabtu, 08 Oktober 2011

And Finally We Can See Our Finish Line

                Ready... Set... GO! Dan larilah atlet itu dengan kecepatan penuh. Terus berlari untuk melihat garis finishnya. Terus berlari, berlari, dan berlari. Otot-otonya dipaksa untuk berkontraksi lebih sering. Pori-porinya dibiarkan mengeluarkan air yang lengket. Paru-parunya dipaksa untuk mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida lebih cepat lagi. Tubuhnya dihempas debu pasir yang membuat dirinya menjadi legam. Matahari dibiarkan memanggang tubuhnya yang sudah ditempa bersama pelatihnya selama satu bulan. Ya,dia sudah tahu. Itu resikonya. Dia sendirilah yang memilih untuk melewati garis start tersebut. Berlari hingga finish
                Atlet itu gambaran dari kami sekarang. Kami, yang terus berlari, berkompetisi, dan belajar. Kami sendiri yang memilih untuk melewati garis start tersebut. Bukan karena paksaan ataupun ancaman. Kami berlari dengan alasan yang sama dengan atlet tersebut : “Kecintaan”. Saya yakin, atlet itu tidak akan kuat menjalani penempaan yang dilakukan pelatihnya kalau dia tidak cinta pada dunia lari. Atlet itu pasti akan menyerah di tengah kalau dia tidak mencintai kerja keras. Atlet itu tidak akan pernah ada dalam dunia kompetisi kalau dia tidak mencintai usahanya. Ya, begitupun dengan kami. Memang, menurut saya “cinta” itu abstrak, klise. Tapi hal tersebut dapat menjadi motivasi utama kami sehingga kami mau melewati garis start tersebut.
                Kami, sudah berada di check point ke 499 dari 500 check point yang harus kami lewati. Artinya, check point terakhir itu adalah garis finish kami. Tiga dari empat komitmen kami telah terpenuhi. Bahkan “3huruf” part 2 pun sudah kami laksanakan. Satu lagi. Satu komitmen lagi. Dan menurut saya, itu adalah hal yang sangaat sulit. Di event tersebut kami berhubungan langsung dengan manusia. Kumpulan manusia yang luar biasa hebat. Lebih hebat dari kami. Ya, atlet itu sedang “bersaing” dengan kompetitor tertangguhnya.
                Benar kata orang bijak, “mempertahankan itu jauh lebih susah dibandingkan mencapai”.  Benar kata orang bijak, “tantangan tersulit itu ada di desa ke-499 saat kamu mau melewati 500 desa”.
                “3huruf” part 2 sudah terlaksana dan bisa dibilang sukses berkat  kami dan bantuan dari angkatan hebat dan calon angkatan hebat lainnya. Atlet itu telah lulus dalam seleksi mengikuti kompetisi. Atlet tersebut mendapat kepercayaan dari para anggota klubnya untuk bisa berkompetisi. Atlet tersebut sedang bersinar dalam klubnya. Namun, andaikan saat atlet tersebut tidak berhasil melewati garis finish atau dia berhasil finish setelah orang lain, sinar itu redup. Pasti.  Manusia cenderung membesarkan 1 kegagalan dibanding 2 keberhasilan. Itu alamiah. Dan siapa yang harus disalahkan? Keadaan? Tidak! Tidak mungkin. Atau bisakah kita bertanya, bukan tentang siapa yang salah. Tapi APA yang salah?
                Belum terlambat, itu masih seandainya. Kami masih belari di jalur kami. Atlet tersebut masih di dalam trek nya. Satu langkah lagi, atlet tersebut sedang berlari mengejar kecintaannya. Melakukan yang terbaik untuk sesuatu yang dicintainya. Bukti terima kasihnya pada pelatihnya. Bukti kecintaannya pada kepercayaan yang didapatnya. Kecintaannya pada klubnya.
                Sebentar lagi teman. Satu lagi hadiah yang akan kami berikan untuk “klub” tercinta kami. Satu lagi hadiah untuk membuat “klub” tercinta kami besar. Kebanggan tersendiri dapat membawa “klub” tersebut besar, dengan adanya kami.
                Drap-drap-drap-drap.... atlet itu masih berlari. Tubuhnya sudah bermandi peluh. Debu dan pasir tertempel di seluruh badannya. Paru-parunya menolak untuk bekerja lebih keras lagi. Kulitnya kisut, menolak mengeluarkan air lebih banyak lagi. Matahari masih setia memanggang tubuh tempaan itu. Kini matanya sudah bisa melihat lingkaran halo. Kompetitor tertangguhnya membuntutinya dari belakang tidak lebih dari jarak 2 meter. Mau menyerah? Sekaranglah saatnya. Pura-pura terjatuh dan keram. Sambil menangis mengerang kesakitan. Dengan begitu petugas medis segera membawanya dengan ambulan dan dia dapat beristirahat di rumah sakit.
                “Saat jatuh, kamu akan merasa kesakitan. Tapi, sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan menyerah sekarang”
                Kalimat itu yang langsung muncul di kepalanya. Kalimat yang pernah dikatakan oleh pelatihnya. Saat jatuh, kamu masih memiliki kaki untuk berdiri. Kamu masih memiliki teman yang menunggu kamu di garis finish. Kamu masih memiliki garis finish untuk dicapai. Kamu tidak sendiri. Dan benar, didepannya tertulis “500th CHECK POINT IS 100 METRES AHEAD”.
                Diacuhkan keletihannya. Diacuhkan rengekan tubuhnya. Diacuhkan otot-otonya yang mulai mengejang. Diacuhkan kerongkongannya yang sarat akan air. Diacuhkan rivalnya yang hampir sejajar dengan dirinya. Terus berlari, berlari, berlari menatap ke depan dan.....  akhirnya garis finish itu terlihat. Di sekitar garis finish tersebut dia melihat teman-teman menyorakinya. Makin lama makin dekat, dan terdengar, AYO! SATU LANGKAH LAGI! SEBENTAR LAGI KAMU AKAN MENGGAPAI BULAN! KAMU KEBANGGAN KAMI!! Hanya dengan kata-kata itu, dia mendapat energi yang luar biasa. Kini kompetitornya sudah tertinggal agak jauh. Di matanya hanyalah tulisan berwarna hitam tebal yang bertuliskan FINISH. Hanya itu. Pikirannya kosong. Naluri yang menuntunnya. Yang dia tahu hanya “saya akan memberikan satu lagi hadiah untuk klub tercinta”.

Dan dia memberikannya.

Satu lagi hadiah yang berhasil membuat “klub” nya jauh jauh lebih besar.

Terima Kasih “klub” ku. Tanpamu saya masih menjadi atlet ingusan yang hanya bisa bermimpi di pojok kamar.

Dan satu lagi hadiah terbesar untuk “klub” nya....
“keberadaan dirinya”
Yang tercinta,
Kami